Begitu membaca informasi ini dikoran, wah... sunggguh kaget, karena yang meninggal banyak banget. sepertinya semua rombongan. Dibalik keindahan dan kedamainnya, alam gunung kadang bisa menjadi mencekam. Disini manusia harus bisa menggunakan akal sehat ketika akan menapakinya. Mungkin tragedi ini, ada hubungannya dengan badai george dan jacob yang melanda beberapa hari ini, sehingga suhu di gunung begitu dingin. Atau mungkin pula persiapan dari pendaki kurang, sehingga tak mampu mengimbangi dinginnya gunung rinjani. Hanya tuhan yang tahu.... Dari dalam hatiku, aku berdoa, semoga mereka yang telah meninggal di gunung rinjani mendapatkan kedamain yang abadi di akherat. aminnn. Aku yakin, berita ini tidak akan menyurutkan nyali teman2 yang begitu cinta dengan alam pegunungan untuk tetap mengunjungi Rinjani.
Dari koran Jawa Pos, Selasa, 13 Mar 2007, Delapan Mahasiswa Tewas saat Mendaki Gunung Rinjani
LOMBOK TIMUR - Delapan pendaki ditemukan tewas di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) Minggu sore (11/03). Dari kartu identitas yang ditemukan, mereka adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Komputer (STIMK) dan Ma’had Darul Qur’an Wal Hadis Pondok Pesantren Syekh Zainuddin Anjani Lombok Timur.
Laporan mengenai tewasnya delapan pendaki itu diperoleh tim SAR Minggu pagi. Pelapornya adalah warga Sembalun yang saat itu kembali ke rumah usai memancing di Danau Segara Anak di puncak Rinjani. "Saat pulang, warga itu menemukan tiga mayat yang sudah kaku. Saat itu juga dia melapor ke tim SAR di Sembalun," jelas Murtindih, anggota tim pencari dari Sembapala Sembalun kepada Lombok Post (Grup Jawa Pos) Minggu malam.
Untuk mengevakuasi korban, saat itu juga dibentuk empat tim. Masing-masing beranggota sekitar 20 orang. Selain bertugas mengevakuasi korban, tim tersebut menyisir sekitar ditemukannya mayat untuk mencari kemungkinan adanya korban lain. Minggu malam itu juga tim evakuasi menemukan tujuh mayat di Tebing Pelewangan. Satu mayat lagi ditemukan kemarin pagi di dekat Teluk Cemara Siu di kawasan Gunung Rinjani.
Dari delapan korban tersebut, tiga mahasiswa STIMK. Masing-masing Anwar Sadat, mahasiswa semester V jurusan Bahasa Inggris, asal Dusun Lakon Mujur, Lombok Tengah; Siswadi, semester I jurusan Bahasa Ingris dari Desa Apitaik, Kecamatan Pringgabaya, dan M. Zainuddin dari Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra.
Korban lain adalah mahasiswa Perguruan Ma’had Darul Qur’an. Yakni, M. Yusuf dari Praya, Lombok Tengah; Herman dari Desa Rensing, Kecamatan Sakra, dan M. Fauzi dari Desa Keselet, Kecamatan Sakra. Satu korban tewas lain adalah Hairul Antoni yang kos di Anjani. Belum jelas apakah Hairul berstatus mahasiswa atau bukan.
Kemarin semua korban sudah diidentifikasi dan divisum di Puskesmas Sembalun. Selanjutnya jasad korban dikirim ke rumah duka masing-masing. Kapolres Lombok Timur AKBP Drs Guruh Achmad yang memimpin evakuasi mengatakan, delapan mahasiswa tersebut diduga tewas akibat keganasan alam Gunung Rinjani. Menurut Guruh, mereka ditemukan dalam keadaan berpencar antara Tebing Pelawangan dan Danau Segara dengan posisi telungkup, duduk, dan jongkok. Melihat posisi korban, diduga para korban kehabisan bekal dan tidak kuat menahan rasa dingin. "Korban telungkup seperti menahan rasa dingin. Saat ditemukan, mereka tanpa dilengkapi jaket dan peralatan yang memadai untuk menahan dingin," jelas Guruh. Guruh yakin tidak ada unsur penganiayaan. Sebab, cuaca buruk menimpa Gunung Rinjani dalam beberapa hari terakhir. Para korban diduga meninggal sejak Kamis (8/03).
Sejak 3 Januari, Gunung Rinjani sebetulnya ditutup dari aktivitas pendakian. Karena itu, diduga para mahasiswa tersebut mengabaikan larangan yang dikeluarkan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). Dalam surat yang ditandatangani Kepala BTNGR Ir M. Arief Toengkagie ditegaskan penutupan semua jalur pendakian ke puncak Rinjani sejak 3 Januari 2007. Penutupan itu dilakukan karena buruknya cuaca di sekitar puncak dan lereng Rinjani. (ulu/ms/jpnn)
Kemungkinan besar ya karena nggak kuat menahan dingin. Di musim hujan kayak gini, mendaki gunung mestinya membawa pakaian extra sebagai penghangat, bekal makanan juga harus mendapat perhatian. Plus peringatan dari kantor taman nasional tidak boleh disepelekan.
ngeri... tapi mengingat banyak pendaki yang masih asal saja tanpa persiapan yang layak, aku gak heran ada kejadian2 spt ini. Aku pernah naek Rinjani, di jalan ketemu 2 orang yg cuma bawa day pack isi botol air minum, supermie dan mantol. Gilee tu dua anak! Alhamdullilah selamat... tapi yg kek gini kan jangan ditiru!
wah.. jadi ikut berduka.. semoga keadaan baik2 saja ya... apapun itu.. semoga sabar menerima cobaan ini..
Iya fin... kadang gunung membuat kita memaksa kita pada kondisi terberat yang pernah kita alami. jadi tetep bersahabatlah dengan alam, jangan meremehkan... alam. btw, kapan ke Bromo-nya... wah.. pingin bgt aku ke bromo bareng kamu...
iya nih.. kayaknya bulan2 July - Agustus deh Bromo lumayan bagus.. saat ini kan mendung.. *nyesel jg dulu ke Bormo bulan Februari 2006, mendung..dung..dung..dung..*
*wah... kalo aku jadi ngambil kerjaan di tempet baru, jadinya belum dapat cuti deeh.. mulai dari awal lagi dapat cuti.. :(*
Kemungkinan besar ya karena nggak kuat menahan dingin. Di musim hujan kayak gini, mendaki gunung mestinya membawa pakaian extra sebagai penghangat, bekal makanan juga harus mendapat perhatian. Plus peringatan dari kantor taman nasional tidak boleh disepelekan.
oOoooOOo kirain ada setan atau demit gitu... :D 8 orang kan banyak banget kok bisa ampe mati kedinginan kan bisa pake baju temennya yang udah meninggal...
Aku pernah naek Rinjani, di jalan ketemu 2 orang yg cuma bawa day pack isi botol air minum, supermie dan mantol. Gilee tu dua anak! Alhamdullilah selamat... tapi yg kek gini kan jangan ditiru!
Wah... Alumni Rinjani... rupanya, Saluuut mbak, aku saja belum pernah kesana. Ngomongin persiapan yg minim..mmmhhh jadi ingat pengalaman dari argopuro kemarin, waktu turun di bremi, tim kami sempat papasan dengan tim dari poltek universitas di malang, mereka ber-empat 3 diantara mereka hanya membawa backpack medium. sedangakan 1 orang membawa tas besar 70 liter kali. dan katanya mereka mau muncak !
kan bisa pake baju temennya yang udah meninggal...
tull, aku juga mikir begini, kan bisa pakai baju teman yang sudah meninggal, tapi aku mikir lagi, gimana kalau di gunung waktu itu lagi ada badai, terus hujan deras, dan mereka nggak bawa raincoat, pakaiam mereka kan basah... jadi nggak ada gunannya pakai pakaian teman yang sudah meninggal.
mereka ber-empat 3 diantara mereka hanya membawa backpack medium. sedangakan 1 orang membawa tas besar 70 liter kali. dan katanya mereka mau muncak !
Aku suka heran deh ma pendaki yg suka ngrepotin diri sendiri, atau sok hebat kaliii... klo aku sih naik gunung gak mau kedinginan, gak mau kelaparan, gak mau capek... hahahaha... Makanya bawa baju hangat yg cukup, pakaian kering, logistik yg lebih, persiapan fisik cukup dan pernak-pernik lain... Meski musibah kadang datang diluar perkiraan, paling gak kita dah siap deh...
agnigeni wrote on Mar 13, '07, edited on Mar 13, '07
kalau cerita yang serem-serem, enggak lah. menurut pengalaman "penunggu" gunung biasanya cukup baik, mereka kadang malah memberi arah yang benar (dg peringatan) kalau kita lagi kesasar. Entah lagi kalau para pendaki ini bikin masalah sama mereka.
kan bisa pake baju temennya yang udah meninggal...
tull, aku juga mikir begini, kan bisa pakai baju teman yang sudah meninggal, tapi aku mikir lagi, gimana kalau di gunung waktu itu lagi ada badai, terus hujan deras, dan mereka nggak bawa raincoat, pakaian mereka kan basah... jadi nggak ada gunannya pakai pakaian teman yang sudah meninggal.
Makanya bawa baju hangat yg cukup, pakaian kering, logistik yg lebih, persiapan fisik cukup dan pernak-pernik lain... Meski musibah kadang datang diluar perkiraan, paling gak kita dah siap deh...
Iya mbak, Lebih baik prepare saat masih di lereng gunung, daripada susah saat di gunung. aku jadi inget "olok-olok" salah satu komandan marinir yang kami temui di cisentor (argopuro) katanya "naik gunung koq bawa kulkas(tas carrier), kayak kita ini lho, cuman bawa backpack, survival, survival dong" teman teman yang mendengarkannya cuman bisa diam saja, malas nanggapinya. batinku, "lha enak bapak rombongannya ada 750 orang, lah kita cuman 9 orang !" hehehe...
hallah... lebih enak moto teman cewek yang cakep utk dijadiin obyek foto bareng...., so... kapan bromonya bro... ?
kan td gw dah bilang bulan agustus deeh yak.. *lihat kalender* 17.18.19 ada long wiken tuh.. kekekeke.. nunggu keadaan reda.. *jadi intinya kapok motoin aku nih..??*
jadi kesimpulannya hypothermia, kedinginan dan kelelahan? soalnya kalau kurang makanan sih selama masih bisa minum dalam 5 hari masih bisa bertahan hidup. Apalagi daerah Rinjani gampang banget dapet air. Something not right here...:(