
Terdorong karena masih minimnya catper tentang
Gunung Wilis, maka aku tertarik untuk membuat catper pendakian ini. Cerita pendakian ini berawal dari ajakan teman
Surabaya untuk mendaki gunung Wilis (lewat tulungagung). Kami
berangkat bersama pada hari minggu (3-4 november 2007). maaf kalau Catpernya agak panjang, Tulisanku hanya mengalir begitu saja.Rencana berangkat ke gunung ini seperti biasa (tidak tersusun secara pasti) maju mundur nya acara / jadi atau enggaknya naik gunung selalu terjadi di hari hari terakhir menjelang keberangkatan, sebuah tipikal khas komunitas pendaki surabaya. Dan akhirnya beberapa hari menjelang hari H barulah pasti keberangkatan menuju wilis. Skenario sederhana di buat untuk berangkat menuju gunung ini. Beberapa bahan2 referensi di cari melalui internet, namun yang kami dapatkan hanya sedikit. Adalah Bayu, teman dari andik yang pernah mencoba mendaki ke gunung Wilis, namun dia hanya sampai watu godek 1600 mdpl (pertengahan perjalanan menuju puncak Wilis), kemudian karena satu dan lain hal bayu dan teman2nya turun kembali. Bayu inilah yang menemani kami untuk menuju ke puncak gunung wilis.
Oh ya, rombongan kami yang menuju gunung wilis terdiri dari 7 orang, yakni : Andik, Bayu, David (penulis), Nurul (Cowok), Siti, Tako, Yudha. Bayu dan tako tinggal di kota tulungagung, jadi mereka tinggal menunggu kedatangan kami di terminal tulungagung. Kami memang mau mendaki gunung melalu jalur tulungagung (yang katanya sekitar 2300 mdpl) Gunung wilis sendiri memiliki beberapa puncak, dimana puncak2 tersebut cukup berjauhan, dan terbagi di berbagai wilayah di jawa timur, seperti Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Madiun, Ponorogo dan Trenggalek.
Beberapa hari menjelang keberangkatan ke wilis, kepastian tentang keberangkatanku belum ada, karena kondisi badanku masih terbilang baru dari sembuh, Muntaber, Demam, Flu, langsung menyerangku, untungnya mereka dapat diatasi dalam beberapa hari. Hari rabu aku sudah cukup sehat, hingga hari jum’at tubuh sudah kembali fit, namun rasanya masih kurang tidur. Barang-barang pendakian aku siapkan, di dalam kerilku ada, 1 tenda isi 3 orang, 1 matras, jirigen air 5 liter, 1 Nasting + 3 kaleng sarden, 1 kompor trangia made by my self (yang ingin aku uji di perjalanan ini), satu liter spirtus, 3 set baju + 1 jacket, yang lainnya beberapa makanan ringan dan alat2 pendakian biasa. Mereka aku packing malam sebelum keberangkatan. Pukul 22.00 baru kelar packing tas.
Sabtu, 3 November 2007
Sekitar pukul 24.00 tgl 2 november, atau 00.00 tgl 3 november, aku berangkat menuju terminal bungurasih Surabaya, disana teman-teman dari Surabaya sudah menunggu. Tidak lama kemudian, kami berangkat menuju kota tulungagung. Dengan bis yang berbiaya 17.500 kami pun sampai di kota tulungagung sekitar pukul 03.30. kami sempatkan untuk mandi dan sholat di terminal tulungagung.
Dari terminal tulungagung, kami berencana untuk menggunakan mikrolet (angkutan umum) untuk menuju ke kecamatan Sendang (Kecamatan terakhir dikaki gunung wilis) yang rencananya disambung dengan mencarter Mikrolet/ojek. Namun kami mendapat tawaran dari saudaranya Bayu, kalau yang bersangkutan bisa membawa kami dari terminal tulungagung dengan mobil pickupnya, setelah di hitung2 harga penawarannya murah juga. Dan akhirnya kami berangkat menuju kecamatan Sendang dengan pick up itu. Setelah beberapa kali makan makanan kecil dan minum teh hangat di sekitaran terminal, ditemani dengan rerintikan hujan gerimis, sekitar pukul 07.00 mobil pickup datang, dan membawa kami menuju arah Kecamatan Sendang.
Kebetulan aku mendapat tempat di samping sopir yang mengendarai kuda (eh pick up) Sedangkan teman-teman berada di jok pickup, sambil terkena rintikan hujan (hehehehe) aku dan pak sopir sesekali ngobrol, ternyata pak sopir ini memiliki usaha Kwade pengantin (semacam altar yg dipakai utk upacara pernikahan) dan kebetulan sebelum berangkat menjemput kami, beliau mendapat order memasang kwade itu. Sehingga agak terlambat menjemput kami. Kami telah melewati kota Sendang, disini sebenaranya terdapat kantor polisi yang biasa utk melapor ketika akan mendaki, namun saat itu, kami memutuskan untuk tidak melapor saja (bonek ceritanya). Sebenarnya ada pos (pendakian) lain. Kata teman, yakni rumah juru kunci Gn. Wilis, posisinya di desa terakhir (Dusun Ngerejeng, Desa Geger, rumahnya ber cat putih, disitu pintunya banyak bertempel sticker PA. Namun sayang, rumah ini baru dilhat saat turun gunung oleh salah satu dari teman kami.
Tak disangka mobil yang kami gunakan mogok, mobil Suzuki Carry 1000cc pickup itu memang bukan aduan untuk menjelajahi jalanan menanjak, tidak seperti mobil2 lain yang kami lihat jalanan seperti L-300 , atau mitsubishi Colt, untungnya mogoknya nggak terlalu jauh dari tempat yang kami tuju untuk pendakian. Yakni sekitar 4 KM menuju pos. Mobil tersebut rusak di klep olinya, karena bocor , dan memutuskan tidak mampu untuk menjemput kami pada saat turun gunungnya. Dan kami pun mulai memanggul keril kami, dengan rute aspal menanjak, ditemani hujan rintik, hingga sampai di warung makan pertigaan Dusun Ngrejeng, Desa Geger. Kami lewatkan dengan makan pagi terlebih dahulu disana. Tentu teman2 lahap memakannya. Beberapa barang kami beli sebelum pendakian, seperti yudha yang membeli 2 botol air Aqua, dan beberapa teman membeli rokok (memang perlu ya ngerokok saat naik gunung ??? kekekeke)
Dari pertigaan ini kami menuju ke Candi Penampihan, setelah berjalan sekitar 1 jam perjalanan, kami sampai di Candi penampihan (penampihan ??? apa sama dg kata penolakan ??? aku nggak tahu) di candi ini terdapat 1 candi utama dengan 2 gerbangnya, dan sebuah prasasti berhuruf jawa kuno. Sayang pada saat kami datang pagar candi dikunci, sehingga kami tidak bisa masuk, jadi kami hanya berfoto dari luar.Disitu terdapat sawah tebu, aku heran, di dataran tinggi koq ada areal sawah tebu, kan biasanya di dataran rendah ya...., mungkin tebu khusus kali. Dan kami pun tertarik untuk mengincipinya, kebetulan kami menemukan beberapa batang tebu yang bergeletakan di jalanan, kami kupas tebu itu dan mengunyahnya, ternyata manis juga....
Menurut informasi, di sekitaran candi penampihan, kami akan menemukan perkebunan teh, tapi waktu perjalanan berangkat kami tidak menemukan areal kebun teh, yang kami temukan adalah justru kebun tebu itu..., jadi heran bingung , tapi pada waktu pulang, aku dan tako menemukan kebun teh yang di maksud, ada di belakang sisi belakang candi penampihan, dan jumlahnnya tidak begitu banyak. Dari candi penampihan, kami sempat ambil salah jalan, sehingga tidak menuju jalan yang benar, memang di sekitaran candi penampihan tidak ada petunjuk jalan yang pasti untuk menuju Gn. Wilis, tapi kalau kita mau cari tahu dan tanya ke petani lokal pastilah kita temukan jalurnya. Nah.. akhirnya kami pun menuju jalur yang tepat untuk ke gunung wilis. Kami berangkat dari candi Penampihan sekitar pukul 09.30 . Kami melintasi sawah-sawah terlebih dahulu, disitu terdapat sawah tebu, sawah jagung, kebun Kol.
Cobaan itu mulai datang
Kemudian kami mulai memasuki areal belukar, banyak rumput tinggi, dengan jalur jalan yang hanya muat utk berjalan satu orang saja. Disitu belukarnya cukup tinggi, dan kadang ada belukar yang tajam di dahannya.., pohon tumbang banyak pula. Rute jalan pada awalnya mendatar, kemudian bertambah menjadi jalur yang menanjak, rute menanjak dilalui saat kami tiba di awal vegetasi hutan, saat terdapat pohon pakis di samping kiri kanan, disinilah mulai ada petunjuk rute perjalanan, yakni berupa plang bertuliskan Puncak ! tinggal mengikuti saja plang itu, gampang to !!! ngikutin plangnya sih gampang, menjalani-nya yang susah hehehe. Kenapa aku bilang susah? karena trek dari candi penampihan ke watu Godek (pos di tengah gunung Wilis) merupakan trek yang minim bonus, menanjak melulu, memang sih ada jalan datar, tapi nggak banyak, 90 % nanjak bro ! belum lagi tanjakannya itu sekitar 70-80 derajat (yg paling parah). Bayangin aja, kalau itu sambil bawa beban yg cukup berat. Di rute itu juga banyak terdapat Pacet (sejenis lintah, yang suka menghisap darah kita) . Pada pendakian ini aku menggunakan Sandal Gunung, yang tidak menggunakan kaos kaki, dan aku pun jadi mangsa sedap pacet-pacet itu, pada pendakian ada sekitar 10-15 kali aku kena pacet, daerahnya sekitar kaki, tapi ada teman juga yg terserang di tangannya. Yang lucu ada seorang teman yang begitu jijik dengan pacet, padahal dia pakai sepatu, dan pakai gather (penutup sepatu, kamu harus bawa ini kalau nggak ingin kena pacet) dan di gather itu penempel seekor pacet, dan dia sampai merinding sendiri melihatnya… padahal belum menggigit kakinya… gitu sudah heboh sendiri. Gimana ya kalau udah kena kakinya… hehehehe.
Anyway aku bukannya nggak tahu tentang pacet ini, sebelumnya aku juga sudah baca informasi soal pacet ini, tapi aku sudah punya usaha utk melawannya… jadi aku ya nekat saja pakai sandal gunung. kata orang-orang, kalau kena pacet tetesin saja pacet itu dengan air yang sudah dicampur dengan tembakau. Dan pada waktu itu sudah aku praktekin cara tersebut, dan…. Pacetnya masih nempel saja di kakiku… huuuh… ternyata cara tersebut tidak ampuh, akhrinya aku ambil saja batang kayu kecil di jalanan aku cungkil pacet itu dari kakiku, dan… lenyaplah pacet tersebut, tapi… darah segera mengucur di bekas gigitan tersebut. Ah.. aku cuekin saja… dan begitulah hingga berkali kali, itung itu donor darah lah... soal rasanya di gigit pacet ? seperti digigit nyamuklah. Nggak terlalu sakit banget.
Di perjalanan, kami ditemani oleh rintik hujan, namun disini tidak terlalu terasa hujannya, karena hutan Gn. Wilis masih rapat banget, masih alami sekali hutannya, kanan kiri banyak pohon, dari pohon pakis, pohon gede (nggak tahu namanya), akar-akar pohon ada di samping kiri-kanan jalanan, ada pula pohon rapuh yang tumbang, melewati terowongan yang terbuat dari tanaman/pohon secara alami, sehingga untuk melaluinya bukan hanya harus merunduk !! tapi merangkak…! Tas-ku yang lumayan tinggi itu, berulangkali tercantol oleh tanaman yang masih lebat di jalur ini. Perjalanan ini terpuaskan karena kami disuguhi vegetasi hujan tropis basah yang benar-benar hijau dan alami. Berbeda halnya dengan kota yang penuh dengan keriwutan dan kemacetan.
Beberapa kali aku harus stop dalam perjalanan ini, letih dan lelah karena di hajar di rute tanjakan ini, nurul yang berada di belakangku beberapa kali menemaniku. Ada cerita lucu waktu kami mendaki bersama, di suatu tanjakan, dia terjatuh sampai mencium tanah ! iya.. sampai menicum tanah, aku yang melihat waktu itu hanya tersenyum, sambil tanya “ yok opo rul.. gak popo ta ? “ dia menyahut nggak ada masalah. padahal sepatu yang dia pakai sepatu tentara lho.. kan mantab tuh… mungkin saja waktu itu dia lengah sehingga terpeleset Hehehe. Sempat pula mau aku abadikan dengan kameraku, tapi mengeluarkan kamera pada saat itu rasanya enggan, karena terkalahkan oleh beban berat yang aku tanggung dan menghindari rasa senang diatas penderitaan orang lain.
Pada pendakian ini aku memang langsung mengepak semua keperluan di satu tas, dari air sampai makanan dan alat kemping aku masukkan 1 di tas, sehingga rasanya memang berat. Mungkin ini lah yang membuat terasa berat di pendakian ini. Tapi mungkin juga karena aku habis sembuh dari sakit, dan malam sebelumnya aku kurang tidur, ditambah kondisi hujan yang membuat kami basah kuyub. Semuanya mungkin bertalian menjadi penyebab dropnya kondisi fisikku. Akibat kondisiku yang drop tersebut, dalam batinku berujar, "rasa taklukku kepada Gunung wilis". Ah.... ambil positifnya saja lah…, di pendakian yang banyak tanjakannya ini, perutku akan lebih sering berolahraga sendiri, nanti bakalan lebih kempes hehehehe… Itulah yang kupikirkan pada waktu pendakian Wilis ini.
Sebenarnya beban berat di keril-ku bisa di siasati dengan tidak membawa air terlalu banyak saat awal pendakian, yakni dengan mengambil air di pos candi penampihan disitu ada aliran sungai yang jernih, tapi rasanya aku nggak mau terlalu bersepkulasi untuk saat proses mendaki, kalau turun sih ngga papa. Kemudian ada sumber air pula di watu godek, yakni air terjun, dan sumber air biasa. Namun untuk menuju kesana perlu sekitar 500 meter perjalanan turun gunung, bukan turunnya yang ogah, tapi naiknya kembali, jalurnya lebih nanjak dibandingkan dengan jalur candi penampihan – watu godek.
Setelah kami melewati “cobaan” ini , sekitar pukul 1 siang kami tiba di Pos Watu Godek. Total perjalanan sekitar 3,5 jam dari Candi penampihan ke Watu Godek.. Pos ini berupa batu besar sebesar mikrolet, lumayan menonjol. Disini kami berhenti dahulu, makan camilan sejenak, dan mengabadikan moment, sambil berbicara tentang rencana berikutnya. Saat itu ada rencana untuk ngecamp di puncak. Jadi langsung summit attack hingga puncak, rencana lain adalah membuka tenda, dan meninggalkan beban di watu godek, kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan beban minim, namun di watu godek tidak ditemukan areal camping ground yang muat untuk 2 tenda, dan kondisi arealnya miring. Akhirnya keputusan pada waktu itu adalah langsung Summit attack. Perlu diketahui pos watu godek ada di tengah-tengah perjalanan menuju puncak wilis, jadi kami masih baru melalui setengah perajalanan. Sedangkan setengah perjalanan kedepan (masih dengan jalan menanjak) menunggu kami. Wajahku langsung kecut di perjalanan ini, fisik ini sudah mengatakan warning !!! code : Yellow ! yang artinya sudah payah banget. Namun begitu aku tetap berjalan bersama rombongan.
Setengah jam perjalanan dari watu godek, aku dibantu Tako dengan membawakan Nasting berserta isinya, kebetulan di perjalanan ini yang hanya membawa tas Backpack kecil hanya Tako, Yudha dan Bayu. Lumayan lah.. berkurang isi tas ku ini. Jadi nggak terlalu berat. Kami berjalan kembali dan setengah jam kemudian kami bertemu dengan teman2 yang lain. mereka berhenti karena menemukan camping ground. Disitu pilihan kembali dipilih, apakah buka tenda disini, atau langsung summit, akhirnya pilihannya adalah Buka tenda ”Alhamdullillah batinku” Setelah buka 1 tenda, disitu kami taruh tas kami semua didalam tenda tersebut. Kami hanya membawa satu daypack yang di isi dengan makanan dan minuman seperlunya dan alata penerangan. Karena diperkirakan ketika setelah sampai puncak, dan kami turun, langit akan sudah gelap. Kami memutuskan hal ini agar target puncak kami dapat terlampaui tanpa membuang waktu kembali. Masalah keamanan soal barang-barang kami, kami juga sudah memperhitungkannya, kami tidak menemukan orang lain saat kami mendaki, dan kami tidak menemukan hewan yang usil (seperti monyet) saat mendaki, jadi kami rasa cukup aman untuk meninggalkan barang kami di hutan ini.
Meraih puncak Gn. Wilis
Seteelah kami meninggalkan baran-barang kami di camping groung, kami berjalan kembali menuju puncak, rute perjalanan tetap menanjak..., tapi pastilah lebih ringan dimana tidak memanggul ”kulkas”di balik punggung. Namun jangan salah, hal itu tetep membuat nafas kami ngos-ngosan. Kalau ada yang pernah ke Gn. Arjuna Lewat candi Sepilar seperti itulah tanjakannya, atau dari pondok kopi ke Sicentor, mirip miriplah, tapi rasanya lebih parah rute ini, habis rutenya nanjak terus dengan sedikit bonus. Kami berhenti di sebuah shelter, disitu kami makan tebu kembali, batang tebu selain berguna untuk bantuan tongkat, berguna pula saat kami haus dan lapar. Nurul menguliti kulit tebu dan membaginya kepada teman-teman yang lain. Puas dengan tebu, kami buka kembali bekal kami, 4 buah pir kami bagi ber-tujuh. Enak banget makan buah pir saat itu, airnya segar, dan daging buahnya benar-benar menjadi obat capek kami.
Sekitar 20 menit kami berhenti, dan perjalanan kami lanjutkan kembali, dengan rute kiri kanan yang masih di hiasi dengan tumbuhan pakis, ciri khas hutan basah, banyak pula lumut yang tumbuh di batang pohon, jalanan dengan alas akar pohon, rontokan daun pohon, ada pula tumbuhan sejenis pandan yang berdaun lebar, dan sejenis pohon anggrek disana. Benar-benar suguhan alam yang sangat alami banget. Dalam pendakian ini, kami tidak menemukan hewan-hewan besar disana. Yang ada justru sejenis nyamuk yang kerap menghampiri kami saat berhenti. Namun dengan asap rokok mereka akan hilang dengan sendirinya. Ada pula suara kicau burung yang merdu sekali, saling besahutan satu sama lain. Kebetulan aku menjumpai satu ekor burung yang berlompatan di atas pohon.
Kemudian vegetasi hutan mulai berubah, mulai banyak pohon cemara / pinus di kiri kanan, daun-daun pinus berjatuhan di tanah. Ciri khas tumbuhan yang ada di puncak gunung. Tidak lama kemudian vegetasi mulai berubah lagi, disitu banyak rumput ilalang tinggi, jalanan mulai susah, tapi kami merasa saat itu kami hampir sampai puncak, kami pun terus saja berjalan, dan dugaan kami benar. Akhirnya kami tiba di puncak Gunung wilis !!! Rasa puas dan lega menyelimuti batinku saat itu. Ucap syukur berkali-kali kami ucapkan pada saat itu. Begitu masing-masing anggota sampai di puncak gunung, kami saling berjabat tangan satu sama lain, untuk mengucapkan "selamat" dan membagi perasaan "senang" telah menapaki puncak gunung yang kami daki bersama ini.
Di Puncak gunung wilis, terdapat beberapa bilah batu yang ditumpuk mengerucut, yang menandakan akan puncak gunung Wilis. Ada pula 2 batu yang terdapat lubang ditengahnya (Sepertinya untuk wadah air hujan). Di areal puncak Gunung Wilis masih terdapat pohon, yakni pohon pinus. Hal ini berbeda dengan pengalamanku menaiki gunung, yang biasanya di puncak gunung jarang diketemui pohon. Masih di areal puncak Gunung Wilis, disitu terdapat camping ground yang cukup luas, terdapat pula bekas tumpukan batu melingkar, bekas api unggun. Namun dari bekasnya, rasanya sudah lama areal ini tidak ditapaki. Rasa-rasanya tidak banyak yang menuju gunung ini. Sayang sekali pada waktu kami di puncak, tidak terlalu terlihat pemandangan di kanan kiri, karena cuaca mendung saat itu. Untuk hawa udara, di puncak terasa dingin, apalagi pada saat itu kami berhenti bergerak, hal itu lah yang membuat kami segera kedinginan. Kami perlu waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dari tempat tenda kami dirikan untuk mencapai puncak.
Di puncak Wilis, bekal makanan & minuman kami buka, sambil tak lupa mengabadikan moment. Kurang lebih sekitar setengah jam kami di puncak. Ada teman yang mengobrol, mencoba menghangatkan tubuhnya dengan rokok, makan Jelly, makan kue, minum air, atau sekedar bengong dan menikmati alam dinginnya puncak gunung ini. Setelah sholat, makan camilan, dan diakhiri dengan foto keluarga, tiba waktunya bagi kami pun meninggalkan Puncak Gunung wilis.
Sekitar pukul 16.45 kami mulai turun dari puncak gunung menuju camping ground kami. Langit sudah mulai gelap, dan celakanya lampu senterku ternyata batereinya lemah saat berada digunung, dan akhrinya aku sendirian yang tidak pakai senter. Untung ada tako dan nurul di bagian depan dan belakangku, yang membantu aku saat turun gunung. Sekitar 1,5 jam perjalanan turun gunung ke camping ground, dalam kondisi gelap kami tiba di camping ground, disitu teman2 sudah mendirikan tenda satunya, total 2 tenda yang kami dirikan. Kami pun mulai mengganti pakaian basah kami dengan cara bergantian. Oh ya, camping ground kami disekitarnya masih tertutup dengan rimbunan pohon, jadi langit tidak terlihat, seperti Arcopodo di Semeru lah.
Setelah kami ganti dengan pakaian kering, kami pun menyiapkan makanan, disini kami masak Sayur Cap-cay plus Nasi putih dan minuman hangat yang disiapkan oleh Siti, yudha, Nurul dan Andik. Saat memasak ini, ramai banget suasananya, teman-teman yang kebagian tugas memasak pada sibuk sendiri dan ramai banget celotehannya hehehe. Saat itulah, Trangia yang aku buat sendiri itu di uji kelayakannya. Ternyata tidak ada masalah yang berarti dalam prosesnya, kompor bikinan aku yang terbuat dari bekas kaleng minuman itu menyala dengan suksesnya. Lumayan dapat menyimpan beberapa ratus ribu rupiah dibandingkan beli yang asli. Akhirnya dengan sepiring nasi dan capcay dengan bakso, kami makan malam itu, kemudian ada pula teman lainnya yang memasak sarden dan nasi, rupanya belum puas dengan yang tadi rupanya hehehe. Dan setelah itu, kami pun tidak kuasa untuk menahan rasa kantuk kami. Kami langsung tidur pulas... entah sekitar pukul 3 malam, tiba2 aku terbangun, rupanya mendapat panggilan alam, aku keluar tenda dan disekitarku pun gelap pula. Benar-benar gelap, baru kali ini aku ke hutan yang begitu rimbun dan gelap busyet... Setelah itu aku pun kembali ke tenda dan ngobrol sebentar dengan teman2, kami ngobrol soal mengambil air di air terjun nanti. Dan kemudian capek membawa kami kembali tidur.
Minggu, 4 November 2007
Sekitar pukul 6 pagi kami bangun tidur, hari itu cuaca cerah, tapi kabut masih menyelimuti kami, jadi jangan berharap ada mentari pagi yang hangat menyapa, yang ada hanya kabut dan bau tanah yang segar sekali .. uuuah... rasanya segar banget ambil napas di pagi hari. Kami memutuskan untuk tidak memasak, karena persedian air kami tinggal sekitar 3-4 botol besar Air minuman. Kami putuskan nanti saja masaknya di air terjun.
Setelah berkemas, kami pun mulai turun kembali ke watu godek, turun gunung relatif mudah jalannya, hanya perlu hati-hati karena jalanan ada yang licin terkena air gerimis kemarin. Sekitar 30 menit kami sampai di watu godek, disini kami istirahat sebentar sambil makan makanan kecil dan minum air, plus foto-foto. Saat perjalanan turun di watu godek terdapat 2 pecabangan, yakni : satu menuju jalur awal (candi penampihan, baca jalur 1) yang kedua jalur air terjun (baca jalur 2) di jalur kedua ini terdapat penujuk jalan yang menunjukkan air terjun hanya sekitar 500 meter. Tapi kata bayu, air terjun yang dimaksud bukan kita bisa melihat secara utuh air terjun itu, tapi kita berada di puncak air terjun itu, yang artinya kita melihat air terjun itu dari atas (sungainya)
Dan kami pun menuju ke air terjun itu, jalurnya lebih gila dari jalur pertama, sudut kemiringannya lebih tajam, kebayang deh beratnya naik melalui jalur ini, lha wong turun saja lumayan berat. Dan sekitar setengah jam kemudian kami menyusuri jalan setapak itu, melewati rimbunan pohon, melintasi sungai kecil, hingga prosotan di tebing kecil tempat mengalirnya air. Mendadak, bayu yang pada awal tahun ini telah melewati jalur ini, lupa jalur. Kami mencoba mengatasinya dengan eksplorasi jalan, mengingat-ingat jalur, bahkan bayu menelpon teman perjalanannya dulu untuk memastikan jalurnya kembali. Namun usaha kami tidak membuahkan hasil. Meskipun kami telah mendengar suara air terjunnya, namun kami tidak bisa menemukan jalur jalan yang harus di lewati. Akhirnya dengan pertimbangan rimbunnya tumbuhan yang dapat menyesatkan kami, akan bekal makanan & minuman yang kami bawa, maka kami memutuskan untuk tidak mencari air terjun itu. Akhrinya kami kembali jalur semula, ke watu godek. Yup...! melalui tanjakan yang berat itu.
Akhirnya kami tiba kembali di watu godek, kami istirahat sejenak, kali ini makan buah pir, berharap semangat kami kembali. Dari watu godek, kami turun melalui jalur yang sama saat pendakian, jalur yang banyak pacetnya pula hahaha, tapi jangan salah di jalur air terjun juga ada pacetnya. Jalur menurun kali ini ternyata berat pula, karena jalanan licin, jadi jalan harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset jatuh, awalnya aku sangat hati-hati agar celanaku tidak kotor, tapi akhirnya aku pun jatuh juga hahaha. Akhirnya aku pun main perosotan di jalur turun tersebut... beberapa kali aku harus merangkak untuk melalui jalur ini. huuuh.. "what im doing here...?" begitu batinku... hahahaha biasa lah hal itu... just thru it, dan berharap sampai di bawah dengan cepat.
Saat aku melintasi sungai yang mengalir bening & bersih, hal ini tidak aku sia-siakan untuk mandi dan membersihkan badan dari lumpur2... segarnya... mandi di sungai. Tapi nanti kalau seandainya kalian ke gunung ini, jangan coba tiru aku, karena di dekat sungai banyak pacet, teman2 yang lain yang mampir ke sungai sekedar cuci muka saja langsung kena pacet, bagaimana dengan aku yang mandi di sungai itu ? ternyata aku tidak kena pacet... hahahaha lha koq bisa... ? mungkin kebetulan saja... aku kan mandinya di aliran sungai yang lagi mengalir... nggak mungkin lah pacet berada disitu, pastilah di pinggir2 sungai kan. nah... begitulah penjelasan logisnya... Segar banget mandi di sungai itu, sampai akhirnya datanglah Nurul dan Tako. mereka kaget melihatku mandi disungai, harapan mereka melihat gadis mandi kali.... nggak taunya ada buaya disitu huahahahaha ! ya sudah, nurul pun membersihkan celanya dari lumpur di sungai tadi, tapi tidak mandi, tako pun begitu, tak lama kemudian nurul berangkat turun duluan, katanya mau cari tebu lagi. sedang aku dan tako menyusul.
Aku dan tako berjalan tertatih tatih, seperti orang yang baru pulang dari perang. Kami melewati Kebun teh (yang akhirnya ketemu, habis kebun tehnya nggak luas, cuman beberapa petak sawah gitu) setelah itu baru melewati candi penampihan, disana aku memfoto kembali candi itu, meski dari luar pagar. terus kami ngeloyor turun kembali ke pos warung (di pertigaan jalan dusun Ngrejeng) kurang lebih 45 menit perjalanan dari penampihan, tampak tako yang berjalan tertatih2 karena kaki kirinya cidera (njarem) dengan tangan kanannya memegang tongkat pemukul anjingnya hahaha. warga sekitar menyapa perjalanan kami dengan senyum manis dan tegur sapanya. Waduuh... malu jadinya. tapi sayangnya koq nggak ada gadis desa ya... pada kemana semua ya... apa pada jadi TKW semua... ? hehehe. Dan akhirnya sekitar pukul 14.30 kami sampai di warung itu... warung pertigaan dusun Ngrejeng.
Teman-teman sudah menunggu dengan cemasnya... (mereka takut kami dipaksa kawin dengan gadis desa setempat kali) dan ritual turun gunung pun berlangsung, makan... sepiring nasi kare ayam dengan kerupuk terasa enak bangat. Segera habis makanan itu dihadapanku (kan memang lagi lapar). Karena jemputan kami menyerah...(ingat insiden pick up kemarin nggak ?) akhirnya kami pun menunggu pickup warga yang kebetulan turun untuk kami tumpangi menuju kecamatan sendang, sambil menunggu koq nggak ada pickup yang lewat, aku kuliti saja tebu yang aku temukan di jalan tadi, lumayan untuk sikat gigi... eh.. belum nongol juga pickup-nya, akhirnya semangkok bakso pun menjadi teman menungguku, bakso pun habis... belum nongol juga pickup-nya.
Akhirnya ada seseorang yang menaiki motor, yang pada akhirnya bisa kita memaksa dia untuk membuka jati dirinya, ternyata dia adalah seorang sopir angkot/mikrolet jurusan Tulungagung-Sendang. Oleh Andik yang kami tugasi untuk mengintrogasi dia, Sang sopir akhirnya sepakat untuk mengatarkan kami ke kota tulungagung dengan biaya 12.500 rupiah per orang. karena kami sudah terlalu lama menunggu mikrolet yang dijanjikan oleh andik dan sopir tadi, akhirnya kami dengan gembiranya turun ke bawah dengan berjalan kaki (itung-tung menghemat solar tuh sopir, kami baik bukan hehehe) dan sekitar 10 menit kemudian mikrolet itu berpapasan dengan kami, dan kami pun naik ke mikrolet itu. oh ya mikrolet ini pakai mobil L-300 dengan tidak ada warna cat khusus (senada dg mikrolet lain) warnanya semau yang empunya mikroletnya. yang ada hanya tulisan Tulungagung-Sendang akhirnya kami melewati kota sendang, karang rejo, dan sampai di tulung agung.
Kurang lebih 30 menit perjalanan. kami mampir di rumah Tako terlebih dahulu untuk Mandi, istirahat dan makan, kebetulan Orang tua Tako baik hati, sehingga kami di jamu dengan camilan dan minuman hangat, dan hidangan penutupnya 50 Tusuk sate dan gule kambing nyam nyam nyam, perut pun jadi kenyang... dan setelah kenyang, kami ngobrol kembali, mulai dari awal perjalanan pendakian tadi hingga topik naruto... (lhoo...??) Kita evaluasi perjalanan kami tadi pagi, koq bisa nggak nemu air terjun ya...? kira kira air terjunnya pidah kemana ? :-)
Sementara Andik lagi Hart to hart dengan kucing keluarga tako yang bernama "Jelitheng" kami membahas apa ada peristiwa menarik selama pendakian, mulai dari dari pacet, hutannya, Naruto, sampai ke mistik, dan ternyata dari penjelasan teman-teman, saat naik gunung wilis tidak menemukan peristiwa yang aneh/goib, hanya saja, aku pada waktu turun gunung (saat itu menjelang malam) dari puncak ke base camp sekilas di ujung mataku aku melihat sebuah kotak berkerucut di pinggir jalan, tapi saat aku tengok kotak itu tidak ada, ada yang nyeletuk "mungkin kotak pusaka peninggalan jaman kerajaan jaman dulu kali..." kami akhiri chit-chat itu dengan foto bersama. ah... akhirnya pulang kembali ke surabaya... Setelah mengucapkan beribu terima kasih kepada keluarga Tako, Kami pun menyetop bis Harapan jaya di depan rumah Tako. Bisnya nyaman, dan cukup cepat. sekitar pukul 22.40 kami tiba di terminal bungurasih (purabaya) dan pulang kembali ke rumah masing-masing.
Beberapa kesimpulan
1. Gunung wilis, menurutku gunung terberat dari gunung-gunung yang pernah aku daki, jalur pendakian benar-benar mampu mengoyak semangatku. Buat aku, perlu kemauan keras untuk mendaki gunung ini ! (bahasa jawanya Ngoyo)
2. Jalur pendakian ada yang tidak terlihat, sehingga perlu hati-hati dalam melangkah.
3. Untuk sumber mata air, ada di dekat pos watu godek (sekitar 500 meter jalanan menurun dari watu godek, sekitar 30-45 Menit perjalanan menurun) selebihnya nggak ada.
4. Banyak pacet berkeliaran di lokasi pendakian, sediakan sepatu dan gather.
5. Kondisi hutan memang sering terselimuti oleh kabut dan hujan, jadi sediakan jas hujan dan baju kering.
6. Kondisi hawa pegunungan tidak terlalu dingin, jadi bisa meninggalkan sleeping bag, tapi tetap bawa jaket kering.
7. Di puncak gunung, pemandangan tidak begitu spektakuler (mungkin karena banyak kabut) Daya tarik gunung ini adalah kondisi hutannya yang masih alami, dan candi di lereng gunung, plus Air terjun (yg belum kami temukan itu)
Rute Transportasi
- Dari Surabaya menuju kota Tulungagung (4 jam) (dengan bis umum, biaya 17.500 sekali berangkat / orang)
- Dari Tulungagung menuju Kecamatan Sendang (45 Menit) (Bisa dengan angkutan umum (mikrolet biaya sekitar 10,000)
- Dari Sendang Menuju Dusun Ngrejeng Desa Geger (Warung di pertigaan Dusun Ngrejeng) (15 Menit dg kendaraan bermotor)-->(Bisa pula dengan Ojek, atau dengan perjanjian dengan mikrolet, atau jalan kaki sekitar 5-6 Kilo meter)
- Dari Pertigaan Dusun Ngrejeng menuju Candi Penampihan (sekitar 1 Jam dengan jalan kaki) - Dari Candi Penampihan ke Watu Godek (Sekitar 3-4 Jam) Jalan Kaki
- Dari Watu Godek Menuju Puncak Wilis (sekitar 3-4 jam) Jalan kaki
Ketinggian tanah Candi penampihan sekitar 700 mdpl, Watu Godek, 1600 mdpl, Puncak Gunung Wilis Via Tulungagung 2300 mdpl.
Oleh : David Mario, November 2007
Foto-foto bisa dilihat di :
Kameranya David
Kameranya Siti
Catper teman lainnya bisa dilihat di :
Catpernya Nurul
Catpernya Siti
Catatannya Andik