Cerita ini berawal dari rencana kami yang ingin mendaki gunung Welirang, Jawa Timur. Pada suatu malam, dimana kami dalam perjalanan turun gunung, Kami yang berangkat bertiga, sampai di sebuah Pondokan penambang belerang tempat belerang yang sudah dikumpulkan untuk ditimbang dan kemudian dibawa ke daerah Tretes dengan Jeep Hadtop. Pondokan Belerang yang saya maksud ini berada diantara Jalur Kop-kopan dengan pondokan belerang bagian atas. Setelah dari pondokan belerang atas, kami turun dengan tujuan Tretes dengan jalur normal. Kami berangkat sekitar pukul 17.30, dengan maksud mengejar ke esokan harinya yang harus bekerja. Rute yang kami lalui lumayan berat, dengan bekas dari ban gerobak milik penambang, berpadu dengan bebatuan yang terjal. sekitar 2 setengah jam kami sampai di batas hardtop (timbangan belerang). Disini batas fisik aku tidak mampu lagi untuk kompromi. Akhirnya aku putuaskan untuk menginap di salah satu pondok milik penambang. Sementara kedua temanku melanjutkan perjalanan turun menuju tretes malam itu juga.
Aku meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik pondok tersebut, lalu setelah itu mulai aku masukkan tas-ku di dalam pondoknya. Pondok itu terbuat dari kayu yang kira-kira berkuran 3M x 3M, dengan atap yang terbuat dari rumbai-rumbai, di bagian ujung atapnya disisakan ruangan utk keluarnya asap perapian. Rupanya hangat juga didalam pondokan, didalam ada perapian yang diapit oleh dua tempat tidur yang beralaskan jerami, dan karung goni diatasnya sebagai bed cover. Dibagian ujung, terdapat gundukan jerami yang di susun layaknya sebuah bantal, benar-benar sederhana. Tawaran kopi hangat datang dari penambang yang akhirnya aku kenal dengan nama Pak Tirzan, yang nama bekennya di mata teman-temannya Tarzan.
Kami pun mulai mengobrol, rupanya pak Tirzan berasal dari daerah Prigen, konon para penambang di yang ada di Gn. Welirang berasal dari daerahnya pak Tirzan (aku lupa nama daerahnya). Seringkali Pak Tirzan berbicara dg bahasa madura ketika berkomunikasi dengan teman-temannya, mereka terbiasa berbicara saling sahut menyahut dengan teman-teman pondokan lainnya, seperti halnya Walkie Talkie saja gumamku. Pak tirzan yang aku pikir berusia 30 tahunan, ternyata berumur 42 tahun, sangat kontras dengan wajahnya yang masih terlihat muda. Rupanya fisik yang prima berpengaruh juga teradap penampilan wajah ya... :)
Kami mengobrol juga soal mitos mitos di gn. welirang ini, kata penambang belirang ini daerah yang cukup angker itu di daerah pipa bocor/pet bocor, konon disana ada yang meninggal gara2 meminum dari air langsung dari pet bocor itu. lalu di daerah Kop-kopan katanya juga lumayan angker... pernah seorang wanita meninggal gara2 tertimpa pohon. "Disini(gn. Welirang) Banyak Gederuwo dan Wewe gombel, dan pocongan" sambung dia. Pak tirzan hanya menceritakan pengalaman teman-temannya, meskipun dia sendiri nggak pernah sekalipun dilihati sosok makhluk gaib. Dia juga berpesan agar Kalau memasuki tempat yang wingit agar terlebih dahulu meminta ijin, khususnya jika ingin buang air kecil/besar, sangat tidak boleh di tempat mata air, dan kalau bisa meminta ijin terlebih dahulu.
Hangatnya perapian malam itu semakin membuat obrolan semakin seru, pak Tirzan menawarkan untuk membuat kan minuman hangat, kebetulan aku cukup lapar, maka 2 sachet minuman sereal segera ku keluarkan, disitu ada pula 2 sachet kopi tapi aku berencana untuk tidur lelap malam ini, maka aku bagi 2 sachet itu ke pak Tirzan. Sambil menunggu air hangat yang lagi di masak di perapian, aku keluarkan Kaleng rokok yang sengaja aku bawa dari rumah. isinya tidak begitu banyak memang, sekitar 25 rokok, yang sebelumnya 3 rokok aku bagikan ke penambang waktu mau puncak, dan 1 rokok aku hisap di pondokan pak tirzan, aku sodorkan rokok itu kepada pak tirzan. Rupanya merokok di dalam pondok cukup menyenangkan, kami ngobrol kembali berbicara soal berapa kali dia pulang pergi mengambil belerang, tentang rumahnya dll.
Ditengah obrolan kami, seluruh isi kaleng rokok aku hibahkan kepada pak Tirzan, yang bersangkutan menerimanya dengan senang. setelah itu obrolan pun semakin lancar saja. dia bercerita soal pengalaman kerjanya, selain menjadi penambang belerang, rupanya dia juga kadang menjadi buruh lepas, kadang menjadi tukang di proyek bangunan, yang kebetulannya satu kecamatan dengan lokasi aku tinggal. kata pak Tirzan " dari kerja Tukang, Membuat Kusen pintu cendela, pengangkut buah semangka/garbis, semuanya aku kerjakan mas, asalkan bekerja dengan cara Hallal"
Bukan itu saja yang membuat saya kagum, rupanya pak Tirzan memegang teguh dengan prinsip hidup sudah ada yang mengatur", "Gusti Allah yang mengatur, Kita harus bersyukur terhadap apa yang kita miliki, mas" Pak tirzan mengatakan " saya sangat bersyukur dengan keadaan yang telah saya miliki, pekerjaan yang hallal, dan rumah sendiri. "Bila dibandingkan dengan orang-orang yang hidup susah dibawah kolong jembatan, saya sangat bersykur dengan keadaan saya". Kata-katanya cukup menyentakku saat itu, hal yang tidak aku sadari sampai saat itu.
Kami mengobrol kembali tentang jalur yang kami lalui, kebetulan kami berangkat melalui jalur Kaliandra/jalur desa Dayurejo. Disana terdapat air terjun yang cukup bagus, disana dia pernah menemukan sebuah tas carrier yang sedang disembunyikan, Sebelumnya dia memang dipesani oleh seorang pendaki asal daerah sukodono yang nama bekennya Joss, dan sudah 50 kali bolak balik gunung Welirang. Dimana Joss kehilangan 2 tas carrier saat mendaki lewat jalur Indrakila, rupanya tas tersebut ada yang mencurinya, dan pencuri itu membawa 1 tas, sedangkan tas yang satunya disembunyikan, Pak Tirzan tak menampik bahwa tidak semua penambang belerang ini baik hatinya, ada pula yang kadang tergoda dengan barang bawaan pendaki. akhirnya tas itu di kembalikan yang punya, Joss asal sukodono-sidoarjo.
Pak Tirzan mengatakan, jalur di gunung Arjuna Welirang banyak percabangannya, jadi lumayan banyak orang yang tersesat di jalur ini. dia menceritakan bahwa saudara dia pernah bertemu dengan seorang wanita sendirian di daerah gunung kembar. Pada awalnya saudaranya pak Tirzan itu kaget bercampur takut, jangan jangan yang dia lihat ini kuntilanak, karena saat itu rupa dan pakaian dia sudah lusuh. wajahnya terlihat kelam, lalu saudara pak Tirzan menanyakan "kamu Kuntilanak apa orang" Lalu sang wanita itu menyahut, Saya manusia koq mas, saya terpisah dari teman-teaman saya dan tersesat di daerah gunung kembar ini. akhirnya oleh sepupu pak tirzan wanita ini dibawa pulang kerumahnya dan dipersilahkan mandi, eeeh ladalah sekarang wanita itu ternyata cantik.
Pada suatu obrolan pak tirzan mengatakan, kalau dia kuat naik itu ya karena sudah terbiasa (tresno jalaran soko kulino) makanya dia kuat hingga naik 2 kali sehari dari jalur pondokan ke kawah PP. Saya mengomentari, wah.. hebat... pak... saya sekali saja sudah ngos-ngosan. Lalu pak tirzan membalasnya " Iya... lah kamu gendut gitu... ya pasti ngos ngosan, kalau naik gunung itu kayak aku gitu lhooo perawakannya langsing tapi berisi, lha kalau kamu gendut gini, nggak ada perawakan ndaki gunung"
Setelah mendengar pernyataannya aku hanya bisa bengooong sambil bergumam "haaaaaaaaaa aku gendut!!!??? sekali lagi aku bertanya kepadanya untuk meyakinkanku "pak dulu itu aku pernah timbang badan, sekitar 73 kg, sekali lagi mau tanya nih, menurut bapak, aku ini gendut, apa agak gendut ?" dan dia menjawab sekali lagi, "sampean iku gendut, duduk rodok gendut" hahahahahahaha bener-bener pernyataan jujur dan polos dari orang desa seperti pak Tirzan yang mungkin tidak pernah aku dapatkan pernyataan dari teman-temanku.
Dengan hati masih tidak percaya, aku pun berargumen, " lho pak aku ya suka naik gunung lho..., udah lumayan banyak lhoo gunung yang aku daki, jadi masak aku nggak ada potongan pendaki" pak tirzan hanya menyedot rokoknya saja dan tidak mengatakan apa-apa.
Aku tidak mempermasalahkan pernyataannya soal gendut itu, mungkin saat itu dia agak ngantuk saat melihat aku, atau mungkin pengaruh cahaya perapian yang redup terang, atau akunya sendiri memang gendut . Yang jelas dalam benakku saat itu kalau dirumah nanti, aku harus timbang badan. Mau tahu berat badanku setelah sampai rumah...? hehehehe berat badanku rupanya 76 Kg !!!
lah tinggimu berapa sih vid. Kalau 170cm ya ngga gendutlah...
Tinggiku 173 mbak..., benernya enggak gendut kan... :D tapi omongannya pak tirzan itu menyontakku utk lebih kurusan lagi. sekarang lagi diet nih hahahaha
gpp dibilang gendut, yg penting tetep bisa naik gunung :p *temenku juga bilang, di Welirang serem, hiiiiii*
hehehehe.... naik gunungnya penuh kepayah karena keberatan beban. Setiap gunung kan pasti ada mitos2nya. Jangan sampai jadi penghalang saat naik gunung. ayooo kapan gunung jawa timur di jelajahi... jangan cuma yg barat.... :D
angker?? hiiiiiiii serrreemmm kalo air ya mungkin mang ada racun kali makanya mati Gpp ndut yg penting ga ndut korupsi :)))
itu kalau nggak salah ceritanya gini : si pengambil air, langsung minum air dari pet bocor itu, tanpa mendahi dulu di suatu tempat, misalnya botol, atau gelas. aku nggak tahu istilah bahasa indonesianya, tapi orang surabaya biasa menyebutnya dengan Nyocop, atau ngokop. Tuh orang, langsung nyocop di pipa bocor itu.
wa.... tambah banyak yg bilang aku ndut... *makin semangat buat diet...*
tenang broo ........... masih 73kg kemarin aku naek arjuno via purwosari itu 87kg atau 89kg, seperti sapi naek gunung nah sekarang bingung nich mau ngurusin bobot tapi tiap hari sebelum tidur malam pengennya makan terus kapan naek bareng broo ..........
Paling serem pas masuk hutan pinus sebelum Pondokan Atas.. Setelah habis tempat penimbangan belerang, akhir track hardtop. Gelap banget, berkabut.. apalagi lewatnya pas magrib-magrib..
Vid , ceritamu yg bikin serem yang waktu kamu cerita gendut, bikin tatut. Jin sebenarnya yah kamu itu vid, makanya aku liat kamu sebenarnya takut, JinNdut......xixixixixixixixi
tenang broo ........... masih 73kg kemarin aku naek arjuno via purwosari itu 87kg atau 89kg, seperti sapi naek gunung nah sekarang bingung nich mau ngurusin bobot tapi tiap hari sebelum tidur malam pengennya makan terus kapan naek bareng broo ..........
salam cho_trex
hehehe rupanya aku ada temannya... :) kalau naik gunung dg badan berisi nggak enaknya jadi pelan. takut ketinggalan teman. mau naik bareng ? lha itu mau ke bromo... itu kan gunung juga... gunung lainnya paling mau re route Arjuno Welirang. sama Gede Pangrango, Mau...? *kayak iklan wae*
Paling serem pas masuk hutan pinus sebelum Pondokan Atas.. Setelah habis tempat penimbangan belerang, akhir track hardtop. Gelap banget, berkabut.. apalagi lewatnya pas magrib-magrib..
nah bener tuh mas... sering kali kita ditipu oleh penampakan putih2. (tapi emang sering ada) kemarin pas turun ya gitu, dari jauh aku lihat putih2 di tengah jalan... tak pikir pocongan atau yg lain. ternyata karung belerang butih yang ditinggalin sama penambang karena kemalaman turun ke pondokan. Kenaaaa dehhh !!!
Vid , ceritamu yg bikin serem yang waktu kamu cerita gendut, bikin tatut. Jin sebenarnya yah kamu itu vid, makanya aku liat kamu sebenarnya takut, JinNdut......xixixixixixixixi
bocah bagus ngene koq diarani jin... piye tooo... mene tak tukokne koco moto awakmu yat.